Langit Kota Jakarta
malam itu, gemintang bintang berpendar di atas sana. Jalanan terlihat padat.
Kendaraan merayap pelan. Sesekali terhenti untuk kemudian beringsut ke dapan
lagi. Begitu seterusnya. Butuh kesabaran berlimpah memang ketika berkendara di
jam-jam pulang kerja seperti itu.
Rasa
lelah setelah seharian berjibaku dengan pekerjaan semakin menjadi karena masih
harus berjibaku menghadapi kemacetan di jalan. Suara klakson yang sesekali
menjerit pun tak berdaya mengurai kemacetan. Paling tidak, pendar bintang di
atas sana masih tetap sejuk untuk dipandang.
Tania
berjalan pelan menuju kursi dekat jendela kaca lebar di kantornya. Duduk
sendiri di sana, setelah sebelumnya mengambil sebotol minuman bersoda di pantry. Kantornya memang istimewa dalam
hal menyediakan makanan yang berlimpah untuk karyawannya. Tak perlu akan merasa
kelaparan bila masih berada di tempat ini. Lemari es dengan isi makanan yang
hampir selalu penuh, menjamin kebutuhan
perut para pegawainya.
Sudah
jam pulang memang, namun Tania belum ingin pulang. Duduk sambil melihat pemandangan di bawah sana.
Kendaraan yang berjalan merayap, lengkap dengan lampu-lampunya, lebih terlihat
seperti ular panjang bercahaya yang sedang bergerak pelan. Sangat indah dilihat
dari atas .
Sebotol
minuman dingin yang tadi diambilnya, belum disentuhnya sama sekali. Tania lebih
memilih untuk duduk diam, melamun lebih tepatnya. Sesekali iseng menghitung
bintang-bintang yang terlihat. Terlintas di benaknya percakapan dua hari yang
lalu dengan Mamanya.
“Kapan
kamu menikah?” tanya Mama Tania.
Tania
yang baru pulang dari kantor tergagap mendengar pertanyaan itu.
“Teman-teman
kamu sudah menikah, sudah punya anak bahkan. Cuma kamu yang belum!” Mama Tania
melanjutkan ucapannya seakan tidak menangkap wajah lelah Tania setelah seharian
bekerja.
“Tania
belum ingin menikah Ma, Tania tidak ingin buru-buru menikah, bagi Tania
semuanya harus dipertimbangkan dengan matang. Apalagi menikah adalah keputusan
sangat penting yang akan berpengaruh untuk kehidupan Tania seterusnya.” Tania
mencoba memberi pengertian dengan suara pelan.
“Dulu
seumuran kamu Mama sudah punya anak tiga!” Mama Tania kembali meneruskan ucapannnya.
***
“Dooor!”
Tania
tergagap. Kehadiran Rina membuat Tania tersentak dari lamunannya.
“Jangan
melamun terus Non, nanti cepat tua loh!” lanjut Rina sambil tertawa meledek.
“Idih,
siapa juga yang melamun terus, tuh aku sedang menghitung bintang yang ada di
atas sana.” jawab Tania mengelak.
“Halah,
alasan kamu saja. Tumben belum pulang Tan?” tanya Rina sambil duduk di samping
Tania.
“Belum
Rin, males, masih macet.”
“Kamu
kenapa juga belum pulang? Biasanya kan kamu paling malas pulang malam?” lanjut
Tania.
“Tadi
aku ada revisi laporan yang harus dikumpulin
hari ini juga, jadi ya terpaksa aku harus lembur. Aku kan tidak seperti kamu
yang selalu rajin dan memiliki dedikasi tinggi.” jawab Rina ringan.
“Hehehe,
bisa saja kamu Rin.”
“Tapi benar loh Tan,
kamu memang pegawai paling rajin di divisi kita, makanya gak heran juga kalau
karir kamu juga sangat bagus, tidak seperti aku.” lanjut Rina sambil tertawa.
***
Tania membuka pintu
rumahnya pelan-pelan, dia tak ingin membuat penghuni rumah terbangun. Malam
sudah begitu larut, pasti orangtuanya telah tidur.
“Baru pulang Tan?”
Tania kaget, dia tak
menyangka Mamanya masih belum tidur.
“Iya Ma, baru pulang.”
“Buat apa kamu bekerja
keras seperti itu Tan? Wanita ujung-ujungnya
ya akan nikah, ngurus suami, ngurus anak.”
“Tania ingin berdiri di
atas kaki Tania sendiri Ma.” jawab Tania.
“Kamu terlalu idealias
Tan, lihat Mamamu ini, tidak bekerja, bisa santai di rumah tapi bisa hidup
enak. Wanita cukup mencari laki-laki mapan untuk menjadi suaminya. Sudah cukup
itu.” kata Mama Tania panjang lebar.
“Tania tidak ingin
seperti itu Ma, Tania tidak ingin bergantung sepenuhnya pada orang lain.” kata
Tania pelan.
***
Pagi yang cerah. Langit
biru di atas sana. Jalanan tak begitu macet. Cukup sempurna pagi itu. Tania
melangkah masuk kantor dengan langkah ringan.
“Pagi Nona Cantik!”
“Pagi juga Rina
Cantik!” jawab Tania balas menggoda Rina.
“Tunggu dulu, ada yang
berbeda dengan wajahmu Rin, sebentar aku perhatikan dulu, apa ya yang beda
dengan wajah kamu?” kata Tania penarasan sambil mengamati wajah Rina dengan
seksama.
“Owh, aku tahu
sekarang, wajah kamu kelihatan sedang luar biasa bahagia Rin. Ehm, ada apa ini?
Ayo kamu harus cerita sama aku!” todong Tania.
“Idih, sok tahu kamu!
Iya, aku ngaku. Aku memang sedang sangat bahagia, tapi ceritanya nanti ya, mau
ke ruangan Bos dulu nih, daaa!” kata Rina sambil berlalu meninggalkan Tania.
Tania hanya bisa
geleng-geleng kepala melihat tingkah laku sahabat karibnya itu.
***
Rina masuk ke dalam
ruangan Tania dengan senyum dikulum, wajahnya berbinar-binar bahagia. Tania
benar-benar tak bisa menyembunyikan kebahagiannya.
“Kamu kenapa Rin? Wajah
kamu benar-benar terlihat bahagia? Ada apa sih? Dapat pacar baru? Bukannya kamu
baru putus dengan pacar kamu sebulan yang lalu?” Tania memberondong Rina dengan pertanyaan.
Rina hanya tersenyum
mendengar rentetan pertanyaan Tania. Ia berjalan mendekat ke arah Tania.
“Ada apa sih Non? Jawab
dong pertanyaanku?” sambung Tania makin penasaran.
Rina hanya mengulurkan
selembar undangan berwarna hitam.
“Datang ya? Jangan
sampai terlambat!” ucap Rina.
“Undangan apa ini Rin?
Undangan ulang tahun adik kamu ya?” tanya Tania.
“Undangan ulang tahun
apa? Makanya buka dulu dong, baca dulu sebelum komentar!” jawab Rina.
Tania segera membuka
undangan berwarna hitam yang tadi diberikan Rina padanya. Membacanya sekilas.
“Undangan pernikahan
kamu? Kamu menikah dengan siapa? Bukannya kamu baru saja putus?” tanya Tania.
“Iya, undangan
pernikahanku Tan, aku akan segera menikah.” jawab Rina sambil tersenyum
sumringah.
“Kamu menikah dengan
siapa? Aldo Rahardian? Siapa dia Rin? kamu belum pernah menyebut namanya di
depanku, apalagi menceritakan tentang dia?”
“Jadi begini Rin, tiga
minggu yang lalu aku bertemu dengan dia saat aku pulang kantor. Kami
berkenalan, dan kamu tahu Rin, dia mengakui jatuh cinta padaku saat pandangan
pertama. Tak butuh waktu lama seminggu kemudian dia langsung melamarku, dan
sekarang kami akan segera menikah.” Rina berbicara dengan mata yang
berbinar-binar.
“Jahat kamu Rin, kenapa
kamu tak pernah cerita sama aku?” kata Tania dengan bibir membulat lucu.
“Biar jadi surprise buat kamu!” jawab Rina.
“Ya sudah, tidak
apa-apa. Aku turut bahagia untukmu Rin.” kata Tania.
Tania kemudian memeluk
Rina. Dia merasa senang karena sahabatnya akan menikah, walaupun di sudut
hatinya terselip rasa khawatir, bagaimana mungkin dalam masa perkenalan yang
begitu singkat mereka bisa memutuskan untuk menikah.
***
“Mau ke mana kamu Rin?”
tanya Tania yang melihat Rina keluar dari ruangannya dengan membawa sebuah
kotak besar.
“Owh kamu Tan, maaf aku
lupa bilang dengan kamu. Aku resign
Tan, jadi mulai besok aku tak bekerja lagi di sini.” jawab Rina.
“Resign? Kenapa? Kamu ingin pindah tempat kerja ya Rin?” tanya Tania
terheran-heran.
“Bukan Tan, aku memang
berhenti kerja. Aku diminta oleh calon suamiku untuk berhenti kerja, karen dia
ingin aku menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Ya sudah Nin, aku buru-buru.
Jangan lupa datang ke resepsi pernikahanku ya!” kata Tania sambil berlalu.
Tania yang masih
terheran-heran hanya bisa tertegun di depan bekas ruangan Rina. Ia tak
menyangka sama sekali kalau pada akhirnya Rina akan resign dari pekerjaannya, padahal Tania tahu betul bagaimana
perjuangan Rina dulu untuk mendapatkan pekerjaan itu.
***
Tania tidak bertemu
dengan Rina lagi setelah sahabatnya itu resign.
Sesekali mereka berkomunikasi melalui media sosial, namun kesibukan Rina yang
tengah mengurus acara pernikahannya membuat komunikasi mereka tak seintens dulu. Beberapa kali Tania
menanyakan kembali keyakinan Rina untuk menikah dengan lelaki yang bernama Aldo
Rahardian itu, mengingat mereka juga baru saja kenal, namun Tania tak bergeming,
ia telah begitu mantap untuk segera menjadi
Nyonya Aldo.
Hingga tibalah hari
sakral itu, amat meriah. Tania tahu betul bagaimana Rina berusaha mati-matian
untuk respsi pernikahannya, nyaris seluruh tabungan Rina habis untuk membiayai
pernikahnya. Lalu apa kabar Aldo? Menurut cerita Rina, Usaha Aldo sedang lesu,
jadilah uang yang digunakan untuk membiayai pernikahan mereka sepenuhnya adalah
uang Rina, walaupun tetap akan diganti oleh Aldo setelah usahanya tak lagi
lesu, begitu setahu Tania.
***
“Dari mana Tan”? tanya
Mama Tania begitu melihat putri semata wayangnya turun dari mobil.
“Tumben rapi amat,” sambungnya.
“Dari resepsi
pernikahan Rina, Ma.”
“Rina teman satu kantor
kamu itu?” tanya Mama Tania.
“Iya Ma,”
“Tuh kan, teman kamu
saja sudah menikah, kamu kapan? Mama sudah ingin punya cucu,” kata Mama Tania.
“Sabar Ma, Tania juga
ingin menikah, tapi Tania tidak ingin buru-buru. Banyak yang harus dipertimbangkan
untuk menikah Ma,” jawab Tania.
“Mama tak ingin bukan,
kalau Tania buru-buru menikah dengan orang yang tidak tepat, kemudian Tania
bercerai?” kata Tania
Mama Tania terdiam
mendengar ucapan Tania. Beliau diam-diam mengakui kebenaran ucapan putrinya
***
Tania memandang fotonya
dan Rina ketika sahabat karibnya itu menikah dua bulan yang lalu. Senyum Rina
yang begitu sumringah terlihat semakin mengokohkan kebahagiannya. Sejak hari
pernikahan Rina, mereka memang tak bertemu lagi. Hanya sesekali mereka saling
bertukar kabar.
Konon Rina memang
mengikuti suaminya ke luar pulau. Entah kapan mereka bisa bertemu lagi. Tiba-tiba
terdengar pintu ruang kerja Tania diketuk dari luar.
“Iya, masuk saja.” ucap
Tania.
Rina muncul dengan
wajah sembab. Tania yang sama sekali tidak menduga kalau saat itu Rina akan
datang menemuinya.
“Kamu di Jakarta Rin?
kapan datang?” tanya Tania sesaat kemudian.
“Baru semalam Tan,”
jawab Rina lesu.
“Aku ke Jakarta sendiri
Rin.” lanjut Rina.
“Loh tidak dengan suami
kamu?” tanya Tania.
“Tidak Tan, aku malah
akan bercerai dengan dia. Dia banyak membohongi aku, sifatnya kasar. Ternyata
dia telah memiliki anak istri di
seberang pulau sana. Usaha yang selalu dia ceritakan padaku juga hanya fiktif.
Dia telah sangat banyak membohongi aku. Aku tak bisa terus menerus memaafkan
kebohongannya itu.” cerita Rina.
Tania hanya terdiam
mendengar ucapan Rina. Undangan pernikahan Rina yang berwarna hitam tertangkap
oleh sudut matanya masih tergeletak di atas meja kerjanya.

0 comments:
Post a Comment