Tuesday, May 30, 2017

,

Undangan Pernikahan yang Berwarna Hitam




Langit Kota Jakarta malam itu, gemintang bintang berpendar di atas sana. Jalanan terlihat padat. Kendaraan merayap pelan. Sesekali terhenti untuk kemudian beringsut ke dapan lagi. Begitu seterusnya. Butuh kesabaran berlimpah memang ketika berkendara di jam-jam pulang kerja seperti itu.
            Rasa lelah setelah seharian berjibaku dengan pekerjaan semakin menjadi karena masih harus berjibaku menghadapi kemacetan di jalan. Suara klakson yang sesekali menjerit pun tak berdaya mengurai kemacetan. Paling tidak, pendar bintang di atas sana masih tetap sejuk untuk dipandang.
            Tania berjalan pelan menuju kursi dekat jendela kaca lebar di kantornya. Duduk sendiri di sana, setelah sebelumnya mengambil sebotol minuman bersoda di pantry. Kantornya memang istimewa dalam hal menyediakan makanan yang berlimpah untuk karyawannya. Tak perlu akan merasa kelaparan bila masih berada di tempat ini. Lemari es dengan isi makanan yang hampir  selalu penuh, menjamin kebutuhan perut para pegawainya.
            Sudah jam pulang memang, namun Tania belum ingin pulang. Duduk  sambil melihat pemandangan di bawah sana. Kendaraan yang berjalan merayap, lengkap dengan lampu-lampunya, lebih terlihat seperti ular panjang bercahaya yang sedang bergerak pelan. Sangat indah dilihat dari atas .
            Sebotol minuman dingin yang tadi diambilnya, belum disentuhnya sama sekali. Tania lebih memilih untuk duduk diam, melamun lebih tepatnya. Sesekali iseng menghitung bintang-bintang yang terlihat. Terlintas di benaknya percakapan dua hari yang lalu dengan Mamanya.
            “Kapan kamu menikah?” tanya Mama Tania.
            Tania yang baru pulang dari kantor tergagap mendengar pertanyaan itu.
            “Teman-teman kamu sudah menikah, sudah punya anak bahkan. Cuma kamu yang belum!” Mama Tania melanjutkan ucapannya seakan tidak menangkap wajah lelah Tania setelah seharian bekerja.
            “Tania belum ingin menikah Ma, Tania tidak ingin buru-buru menikah, bagi Tania semuanya harus dipertimbangkan dengan matang. Apalagi menikah adalah keputusan sangat penting yang akan berpengaruh untuk kehidupan Tania seterusnya.” Tania mencoba memberi pengertian dengan suara pelan.
            “Dulu seumuran kamu Mama sudah punya anak tiga!” Mama Tania kembali meneruskan ucapannnya.
***
            “Dooor!”
            Tania tergagap. Kehadiran Rina membuat Tania tersentak dari lamunannya.
            “Jangan melamun terus Non, nanti cepat tua loh!” lanjut Rina sambil tertawa meledek.
            “Idih, siapa juga yang melamun terus, tuh aku sedang menghitung bintang yang ada di atas sana.” jawab Tania mengelak.
            “Halah, alasan kamu saja. Tumben belum pulang Tan?” tanya Rina sambil duduk di samping Tania.
            “Belum Rin, males, masih macet.”
            “Kamu kenapa juga belum pulang? Biasanya kan kamu paling malas pulang malam?” lanjut Tania.
            “Tadi aku ada revisi laporan yang harus dikumpulin hari ini juga, jadi ya terpaksa aku harus lembur. Aku kan tidak seperti kamu yang selalu rajin dan memiliki dedikasi tinggi.” jawab Rina ringan.
            “Hehehe, bisa saja kamu Rin.”
“Tapi benar loh Tan, kamu memang pegawai paling rajin di divisi kita, makanya gak heran juga kalau karir kamu juga sangat bagus, tidak seperti aku.” lanjut Rina sambil tertawa.
***
Tania membuka pintu rumahnya pelan-pelan, dia tak ingin membuat penghuni rumah terbangun. Malam sudah begitu larut, pasti orangtuanya telah tidur.
“Baru pulang Tan?”
Tania kaget, dia tak menyangka Mamanya masih belum tidur.
“Iya Ma, baru pulang.”
“Buat apa kamu bekerja keras seperti itu Tan? Wanita ujung-ujungnya ya akan nikah, ngurus suami, ngurus anak.”
“Tania ingin berdiri di atas kaki Tania sendiri Ma.” jawab Tania.
“Kamu terlalu idealias Tan, lihat Mamamu ini, tidak bekerja, bisa santai di rumah tapi bisa hidup enak. Wanita cukup mencari laki-laki mapan untuk menjadi suaminya. Sudah cukup itu.” kata Mama Tania panjang lebar.
“Tania tidak ingin seperti itu Ma, Tania tidak ingin bergantung sepenuhnya pada orang lain.” kata Tania pelan.
***
Pagi yang cerah. Langit biru di atas sana. Jalanan tak begitu macet. Cukup sempurna pagi itu. Tania melangkah masuk kantor dengan langkah ringan.
“Pagi Nona Cantik!”
“Pagi juga Rina Cantik!” jawab Tania balas menggoda Rina.
“Tunggu dulu, ada yang berbeda dengan wajahmu Rin, sebentar aku perhatikan dulu, apa ya yang beda dengan wajah kamu?” kata Tania penarasan sambil mengamati wajah Rina dengan seksama.
“Owh, aku tahu sekarang, wajah kamu kelihatan sedang luar biasa bahagia Rin. Ehm, ada apa ini? Ayo kamu harus cerita sama aku!” todong Tania.
“Idih, sok tahu kamu! Iya, aku ngaku. Aku memang sedang sangat bahagia, tapi ceritanya nanti ya, mau ke ruangan Bos dulu nih, daaa!” kata Rina sambil berlalu meninggalkan Tania.
Tania hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku sahabat karibnya itu.
***
Rina masuk ke dalam ruangan Tania dengan senyum dikulum, wajahnya berbinar-binar bahagia. Tania benar-benar tak bisa menyembunyikan kebahagiannya.
“Kamu kenapa Rin? Wajah kamu benar-benar terlihat bahagia? Ada apa sih? Dapat pacar baru? Bukannya kamu baru putus dengan pacar kamu sebulan yang lalu?” Tania  memberondong Rina dengan pertanyaan.
Rina hanya tersenyum mendengar rentetan pertanyaan Tania. Ia berjalan mendekat ke arah Tania.
“Ada apa sih Non? Jawab dong pertanyaanku?” sambung Tania makin penasaran.
Rina hanya mengulurkan selembar undangan berwarna hitam.
“Datang ya? Jangan sampai terlambat!” ucap Rina.
“Undangan apa ini Rin? Undangan ulang tahun adik kamu ya?” tanya Tania.
“Undangan ulang tahun apa? Makanya buka dulu dong, baca dulu sebelum komentar!” jawab Rina.
Tania segera membuka undangan berwarna hitam yang tadi diberikan Rina padanya. Membacanya sekilas.
“Undangan pernikahan kamu? Kamu menikah dengan siapa? Bukannya kamu baru saja putus?” tanya Tania.
“Iya, undangan pernikahanku Tan, aku akan segera menikah.” jawab Rina sambil tersenyum sumringah.
“Kamu menikah dengan siapa? Aldo Rahardian? Siapa dia Rin? kamu belum pernah menyebut namanya di depanku, apalagi menceritakan tentang dia?”
“Jadi begini Rin, tiga minggu yang lalu aku bertemu dengan dia saat aku pulang kantor. Kami berkenalan, dan kamu tahu Rin, dia mengakui jatuh cinta padaku saat pandangan pertama. Tak butuh waktu lama seminggu kemudian dia langsung melamarku, dan sekarang kami akan segera menikah.” Rina berbicara dengan mata yang berbinar-binar.
“Jahat kamu Rin, kenapa kamu tak pernah cerita sama aku?” kata Tania dengan bibir membulat lucu.
“Biar jadi surprise buat kamu!” jawab Rina.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Aku turut bahagia untukmu Rin.” kata Tania.
Tania kemudian memeluk Rina. Dia merasa senang karena sahabatnya akan menikah, walaupun di sudut hatinya terselip rasa khawatir, bagaimana mungkin dalam masa perkenalan yang begitu singkat mereka bisa memutuskan untuk menikah.
***
“Mau ke mana kamu Rin?” tanya Tania yang melihat Rina keluar dari ruangannya dengan membawa sebuah kotak besar.
“Owh kamu Tan, maaf aku lupa bilang dengan kamu. Aku resign Tan, jadi mulai besok aku tak bekerja lagi di sini.” jawab Rina.
Resign? Kenapa? Kamu ingin pindah tempat kerja ya Rin?” tanya Tania terheran-heran.
“Bukan Tan, aku memang berhenti kerja. Aku diminta oleh calon suamiku untuk berhenti kerja, karen dia ingin aku menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Ya sudah Nin, aku buru-buru. Jangan lupa datang ke resepsi pernikahanku ya!” kata Tania sambil berlalu.
Tania yang masih terheran-heran hanya bisa tertegun di depan bekas ruangan Rina. Ia tak menyangka sama sekali kalau pada akhirnya Rina akan resign dari pekerjaannya, padahal Tania tahu betul bagaimana perjuangan Rina dulu untuk mendapatkan pekerjaan itu.
***
Tania tidak bertemu dengan Rina lagi setelah sahabatnya itu resign. Sesekali mereka berkomunikasi melalui media sosial, namun kesibukan Rina yang tengah mengurus acara pernikahannya membuat komunikasi  mereka tak seintens dulu. Beberapa kali Tania menanyakan kembali keyakinan Rina untuk menikah dengan lelaki yang bernama Aldo Rahardian itu, mengingat mereka juga baru saja kenal, namun Tania tak bergeming, ia telah begitu mantap untuk segera menjadi  Nyonya Aldo.
Hingga tibalah hari sakral itu, amat meriah. Tania tahu betul bagaimana Rina berusaha mati-matian untuk respsi pernikahannya, nyaris seluruh tabungan Rina habis untuk membiayai pernikahnya. Lalu apa kabar Aldo? Menurut cerita Rina, Usaha Aldo sedang lesu, jadilah uang yang digunakan untuk membiayai pernikahan mereka sepenuhnya adalah uang Rina, walaupun tetap akan diganti oleh Aldo setelah usahanya tak lagi lesu, begitu setahu Tania.
***
“Dari mana Tan”? tanya Mama Tania begitu melihat putri semata wayangnya turun dari mobil.
Tumben rapi amat,” sambungnya.
“Dari resepsi pernikahan Rina, Ma.”
“Rina teman satu kantor kamu itu?” tanya Mama Tania.
“Iya Ma,”
“Tuh kan, teman kamu saja sudah menikah, kamu kapan? Mama sudah ingin punya cucu,” kata Mama Tania.
“Sabar Ma, Tania juga ingin menikah, tapi Tania tidak ingin buru-buru. Banyak yang harus dipertimbangkan untuk menikah Ma,” jawab Tania.
“Mama tak ingin bukan, kalau Tania buru-buru menikah dengan orang yang tidak tepat, kemudian Tania bercerai?” kata Tania
Mama Tania terdiam mendengar ucapan Tania. Beliau diam-diam mengakui kebenaran ucapan putrinya
***
Tania memandang fotonya dan Rina ketika sahabat karibnya itu menikah dua bulan yang lalu. Senyum Rina yang begitu sumringah terlihat semakin mengokohkan kebahagiannya. Sejak hari pernikahan Rina, mereka memang tak bertemu lagi. Hanya sesekali mereka saling bertukar kabar.
Konon Rina memang mengikuti suaminya ke luar pulau. Entah kapan mereka bisa bertemu lagi. Tiba-tiba terdengar pintu ruang kerja Tania diketuk dari luar.
“Iya, masuk saja.” ucap Tania.
Rina muncul dengan wajah sembab. Tania yang sama sekali tidak menduga kalau saat itu Rina akan datang menemuinya.
“Kamu di Jakarta Rin? kapan datang?” tanya Tania sesaat kemudian.
“Baru semalam Tan,” jawab Rina lesu.
“Aku ke Jakarta sendiri Rin.” lanjut Rina.
“Loh tidak dengan suami kamu?” tanya Tania.
“Tidak Tan, aku malah akan bercerai dengan dia. Dia banyak membohongi aku, sifatnya kasar. Ternyata dia telah memiliki  anak istri di seberang pulau sana. Usaha yang selalu dia ceritakan padaku juga hanya fiktif. Dia telah sangat banyak membohongi aku. Aku tak bisa terus menerus memaafkan kebohongannya itu.” cerita Rina.
Tania hanya terdiam mendengar ucapan Rina. Undangan pernikahan Rina yang berwarna hitam tertangkap oleh sudut matanya masih tergeletak di atas meja kerjanya.



Share:

0 comments:

Post a Comment