Hujan perlahan turun, tetes
airnya lambat laun membentuk genangan lebar. Jalanan sepi, hanya beberapa
kendaraan yang lewat tergesa-gesa. Sudah seperempat terakhir penghujung malam.
Kilau cahaya lampion di ujung jalan sesekali terlihat. Sisa-sisa keramaian
perayaan masih terlihat. Gelak tawa dan riuh rendah suara seperti tertinggal di
jalan itu.
Seorang
perempuan duduk tanpa alas di atas trotoar jalan. Pandangannya nanar. Tak ada binar bahagia yang terpancar dari
matanya. Matanya sedih dan sepi. Sesekali dia menggerak-gerakkan kakinya dengan
gelisah.
“Amari...”
bisiknya lirih.
Hening,
tak ada sahutan. Jalanan kian sepi. Sudah lewat dini hari. Wanita itu mengatupkan bibirnya. Mencoba
menahan dingin yang kian mengiris.
Malam
kian larut, beberapa lampion dengan warna merah yang tergantung di ujung jalan
bergoyang pelan tertiup angin. Sepi lagi.
Perempuan
ayu itu berjalan gontai menembus gelap malam. Congsam¹⁾ warna
merah yang dikenakannya sesekali terlihat bersinar terkena sorot lampu
kendaraan. Punggungnya semakin tak terlihat, perlahan-lahan hilang ditelan
pekat. Jauh.
***
Udara
Semarang sedang panas-panasnya. Decit rem kendaraan bersaing dengan jerit klakson.
Tak ada istilah lengang untuk Gang Warung pada siang hari seperti ini. Jajaran
toko tekstil yang memajang aneka corak kain terlihat ramai oleh para pembeli
yang sibuk berbelanja.
Aroma
hio dan lagu mandarin yang samar-samar terdengar menjadi pengiring kegiatan
bisnis yang sibuk. Sengitnya transaksi menjadi bukti kerasnya hidup yang harus
dijalani.
“Liling
kasih kembalian go ceng²⁾!” Baba³⁾ Chen menyuruh
putrinya memberikan kembalian kepada pembeli di toko tekstil mereka.
Liling mengangguk patuh. Dia
mengulurkan selembar uang lima ribu kepada pembeli itu.
“Terima kasih, lain kali belanja
kemari lagi ya!” ucap Liling sambil tersenyum ramah.
Baba
Chen menyalakan kipas angin sambil menggerutu tak jelas. Mulutnya komat-kamit
seperti sedang mengucapkan sesuatu. Alisnya bertaut kesal.
“Kenapa Ba?” Liling bertanya keheranan.
“Kemana Cicikmu⁾ itu?
Sudah tahu jam-jam seperti ini toko sedang ramai-ramainya, Meifen malah pergi!”
seru Baba Chen.
Liling terdiam. Tak ada gunanya
berdebat panjang dengan Babanya pada
saat-saat seperti ini.
“Liling tak tahu Ba,” ucap Liling akhirnya sambil
menunduk, pura-pura sibuk menghitung
keuangan toko.
Baba
Chen mendengus sebal. Bukan kali ini saja anak sulungnya menghilang dari toko.
Seperti ada yang sedang disembunyikan Meifen darinya. Sebuah rahasia.
***
Amari berdiri menyandar pada dinding
benteng. Matanya gelisah. Sesekali dia terlihat merapikan bajunya. Kali ini dia
mengenakan baju yang dibuat dari kain batik kualitas nomor satu. Posisinya
sebagai putra tunggal juragan batik membuatnya tak sulit untuk mendapatkan
pakaian dengan kualitas paling bagus.
Malam semakin larut. Amari masih
tetap berdiri di tempat itu. Udara terasa dingin, menggigit hingga ke tulang. Sebulan
yang lalu dia telah berjanji untuk bertemu dengan Meifen di tempat ini.
“Segeralah berbicara pada Babamu Meifen,” pinta Amari pelan.
Meifen menunduk. Tangannya
memilin-milin congsamnya.
“Meifen, aku ingin hubungan kita ini
segera mendapat kejelasan. Tolonglah Meifen,” mohon Amari.
“Aku belum memiliki keberanian
Amari. Maafkan aku,” ucap Meifen lirih.
“Sampai kapan kita akan seperti ini
Meifen? Terjebak dalam hubungan yang tak pasti. Hubungan kita telah mendapat
restu dari keluargaku, sekarang giliranmu untuk memperjuangkan hubungan ini,”
keluh Amari.
“Aku berjanji akan tetap mencintaimu,
apapun nanti jawaban Babamu.
Percayalah padaku Meifen!” ujar Amari mencoba meyakinkan Meifen.
“Beri aku waktu sebulan Amari. Aku
akan berbicara dengan Babaku,” pinta Meifen.
“Baik, sebulan lagi temui aku di
tempat ini,” ujar Amari.
Hampir dini hari. Suara burung gagak
di kejauhan membuat bulu kuduk berdiri. Amari mulai menggigil kedinginan. Kekasihnya
tak akan datang. Hatinya meremang kecewa. Amari melangkah gontai. Pulang.
***
“Bicaralah pada Baba Cik,” Liling memberi
saran pada Meifen.
“Aku tak memiliki keberanian Ling,
aku terlalu takut untuk mengatakan hal ini pada Baba,” keluh Meifen putus asa.
“Pikirkan Amari Cik, dia telah memperjuangkan hubungan kalian. Sekarang saatnya Cicik yang berjuang. Kalian harus
berjuang sama-sama. Tak adil rasanya bila hanya Amari yang berjuang sendiri,”
Liling berbicara panjang lebar pada kakaknya.
“Aku takut berbicara pada Baba Ling. Kamu tahu sendiri kan bagaimana
Baba dari dulu begitu keras mendidik
kita semenjak kepergian Mama.”
“Berbicaralah pada Baba Cik,
kumpulkan keberanian Cicik!”
“Mungkin semuanya sudah terlambat,”
kata Meifen lirih.
Liling terdiam mendengar ucapan
Meifen. Dia meraih bahu Meifen, memeluknya sedih.
“Temui Baba Cik, aku tahu Cicik pasti bisa, Cicik harus berani mencoba berbicara pada Baba, toh Cicik juga
belum mencoba berbicara dengan Baba. Jangan
berburuk sangka pada Baba.” ucapnya
lembut.
Mendengar ucapan Liling, Meifen
menangis tanpa suara. Cintanya memang harus diperjuangkan dengan segenap kekuatan,
namun ketakutannya sendiri yang membelenggu Meifen.
***
Meifen berjalan mondar mandir di
kamarnya. Berulang kali dia mematut dirinya di depan cermin. Congsam warna merah yang dikenakannya
serasi dengan gincu yang menghiasi bibirnya. Pipinya merona merah seperti buah
ceri.
Putri sulung Baba Chen itu berjalan keluar. Dia menghampiri Baba Chen yang sedang duduk serius di depan mesih hitung. Keningnya
berkerut-kerut. Seperti sedang ada sesuatu yang membuat pikirannya gusar.
Berulang kali tangannya memegang dahinya yang licin. Meifen paham betul
keuntungan toko memang menurun akhir-akhir ini.
“Kamu tahu Meifen, keuntungan toko
kita tak sebagus dulu. Jadi kita harus pintar-pintar mengelola toko ini,” ujar Baba Chen.
“Meifen tahu Baba,” Meifen menjawab singkat sambil mengangsurkan secangkir teh
hijau kegemaran Babanya.
“Baba,
Meifen ingin mengatakan sesuatu. Maafkan Meifen, apa yang akan Meifen katakan
ini mungkin membuat Baba marah,” ucap
Meifen perlahan.
Baba
Chen melepas kacamatanya. Matanya lekat menatap Meifen.
“Katakan Meifen!”
“Meifen mencintai seorang laki-laki,
maksud Meifen, kami saling mencintai. Kami ingin menikah,” ucap Meifen lirih,
dia tak sanggup bila harus menanggung kemarahan Babanya.
“Mencintai? Siapa dia?” tanya Baba Chen.
Meifen menelan ludahnya,
tenggorokannya terasa kering. Lidahnya kelu.
“Meifen mencintai Am...” kata-kata
Meifen terputus.
Terdengar suara gaduh di luar. Dua
orang laki-laki melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam toko tekstil Baba Chen. Jantung Meifen berdetak lebih
kencang, dia mengenali dua orang laki-laki itu, mereka masih keluarga dekat
Amari.
“Me...Meifen!” ujar laki-laki
bertubuh gemuk dengan nafas tersenggal-senggal.
“Ada apa Pak Lik⁾?” tanya
Meifen. Jantungnya kian berdegub cepat, ada firasat buruk yang tiba-tiba
mengambang di udara.
“Amari Nak, dia meninggal dini hari
tadi. Tertabrak mobil,” ucap laki-laki yang lebih berumur.
Tubuh Meifen mendadak lunglai.
Dunianya tiba-tiba berubah gelap gulita. Mataharinya telah direnggut begitu
saja. Semalam Amari datang untuk bertemu dengannya, namun belum sempat dia
menemuinya, kematian telah lebih dulu menjemput kekasihnya.
***
Liling berdiri sedih di depan pintu
kamar Meifen. Pandangannya nelangsa melihat Meifen yang sedang asyik berdandan
di depan cermin. Congsam warna merah
telah dikenakan kakak semata wayangnya itu. Rambutnya tersanggul rapi.
“Kemarilah Liling, lihatlah aku!
Bagaimana menurutmu? Aku sudah cantik bukan?” tanya Meifen sambil memoleskan
gincu warna merah.
“Cantik Cik, sangat cantik,” ucap Liling sambil mencoba tersenyum.
“Malam ini aku akan bertemu dengan
Amari. Dia senang melihatku memakai congsam.
Dia pasti akan mengajakku menikah. Baba
juga sangat setuju kalau aku menikah dengan Amari,” cerita Meifen riang.
Mati-matian Liling mencoba menahan
air matanya yang siap runtuh. Sejak kematian Amari, Meifen banyak berubah.
Nyaris setiap malam hingga dini hari ia berjalan di sepanjang Pecinan dengan
mengenakan congsamnya. Tak ada yang
bisa mencegahnya.
Meifen selalu menunggu kekasihnya
hingga lewat dini hari. Berharap Amari datang menemuinya. Amari memang telah
mati, namun cinta Meifen padanya tetap abadi.
Catatan:
¹ Pakaian tradisional yang berasal
dari Tiongkok, dikenakan oleh wanita.
² Lima ribu
³ Bapak
Panggilan untuk kakak perempuan
Paman

0 comments:
Post a Comment