Wednesday, May 24, 2017

,

Perempuan Bercongsam Merah


           Hujan perlahan turun, tetes airnya lambat laun membentuk genangan lebar. Jalanan sepi, hanya beberapa kendaraan yang lewat tergesa-gesa. Sudah seperempat terakhir penghujung malam. Kilau cahaya lampion di ujung jalan sesekali terlihat. Sisa-sisa keramaian perayaan masih terlihat. Gelak tawa dan riuh rendah suara seperti tertinggal di jalan itu.
            Seorang perempuan duduk tanpa alas di atas trotoar jalan. Pandangannya  nanar. Tak ada binar bahagia yang terpancar dari matanya. Matanya sedih dan sepi. Sesekali dia menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah.
            “Amari...” bisiknya lirih.
            Hening, tak ada sahutan. Jalanan kian sepi. Sudah lewat dini hari.  Wanita itu mengatupkan bibirnya. Mencoba menahan dingin yang kian mengiris.
            Malam kian larut, beberapa lampion dengan warna merah yang tergantung di ujung jalan bergoyang pelan tertiup angin. Sepi lagi.
            Perempuan ayu itu berjalan gontai menembus gelap malam. Congsam¹ warna merah yang dikenakannya sesekali terlihat bersinar terkena sorot lampu kendaraan. Punggungnya semakin tak terlihat, perlahan-lahan hilang ditelan pekat. Jauh.
***
            Udara Semarang sedang panas-panasnya. Decit rem kendaraan bersaing dengan jerit klakson. Tak ada istilah lengang untuk Gang Warung pada siang hari seperti ini. Jajaran toko tekstil yang memajang aneka corak kain terlihat ramai oleh para pembeli yang sibuk berbelanja.
            Aroma hio dan lagu mandarin yang samar-samar terdengar menjadi pengiring kegiatan bisnis yang sibuk. Sengitnya transaksi menjadi bukti kerasnya hidup yang harus dijalani.
            “Liling kasih kembalian go ceng²!” Baba³ Chen menyuruh putrinya memberikan kembalian kepada pembeli di toko tekstil mereka.
            Liling mengangguk patuh. Dia mengulurkan selembar uang lima ribu kepada pembeli itu.
            “Terima kasih, lain kali belanja kemari lagi ya!” ucap Liling sambil tersenyum ramah.
            Baba Chen menyalakan kipas angin sambil menggerutu tak jelas. Mulutnya komat-kamit seperti sedang mengucapkan sesuatu. Alisnya bertaut kesal.
            “Kenapa Ba?” Liling bertanya keheranan.
            “Kemana Cicikmu⁾ itu? Sudah tahu jam-jam seperti ini toko sedang ramai-ramainya, Meifen malah pergi!” seru Baba Chen.
            Liling terdiam. Tak ada gunanya berdebat panjang dengan Babanya pada saat-saat seperti ini.
            “Liling tak tahu Ba,” ucap Liling akhirnya sambil menunduk, pura-pura  sibuk menghitung keuangan toko.
            Baba Chen mendengus sebal. Bukan kali ini saja anak sulungnya menghilang dari toko. Seperti ada yang sedang disembunyikan Meifen darinya. Sebuah rahasia.      
***
            Amari berdiri menyandar pada dinding benteng. Matanya gelisah. Sesekali dia terlihat merapikan bajunya. Kali ini dia mengenakan baju yang dibuat dari kain batik kualitas nomor satu. Posisinya sebagai putra tunggal juragan batik membuatnya tak sulit untuk mendapatkan pakaian dengan kualitas paling bagus.
            Malam semakin larut. Amari masih tetap berdiri di tempat itu. Udara terasa dingin, menggigit hingga ke tulang. Sebulan yang lalu dia telah berjanji untuk bertemu dengan Meifen di tempat ini.
            “Segeralah berbicara pada Babamu Meifen,”  pinta Amari pelan.
            Meifen menunduk. Tangannya memilin-milin congsamnya.
            “Meifen, aku ingin hubungan kita ini segera mendapat kejelasan. Tolonglah Meifen,” mohon Amari.
            “Aku belum memiliki keberanian Amari. Maafkan aku,” ucap Meifen lirih.
            “Sampai kapan kita akan seperti ini Meifen? Terjebak dalam hubungan yang tak pasti. Hubungan kita telah mendapat restu dari keluargaku, sekarang giliranmu untuk memperjuangkan hubungan ini,” keluh Amari.
            “Aku berjanji akan tetap mencintaimu, apapun nanti jawaban Babamu. Percayalah padaku Meifen!” ujar Amari mencoba meyakinkan Meifen.
            “Beri aku waktu sebulan Amari. Aku akan berbicara dengan Babaku,” pinta Meifen.
            “Baik, sebulan lagi temui aku di tempat ini,” ujar Amari.
            Hampir dini hari. Suara burung gagak di kejauhan membuat bulu kuduk berdiri. Amari mulai menggigil kedinginan. Kekasihnya tak akan datang. Hatinya meremang kecewa. Amari melangkah gontai. Pulang.
***
            “Bicaralah pada Baba Cik,” Liling memberi saran pada Meifen.
            “Aku tak memiliki keberanian Ling, aku terlalu takut untuk mengatakan hal ini pada Baba,” keluh Meifen putus asa.
            “Pikirkan Amari Cik, dia telah memperjuangkan hubungan kalian. Sekarang saatnya Cicik yang berjuang. Kalian harus berjuang sama-sama. Tak adil rasanya bila hanya Amari yang berjuang sendiri,” Liling berbicara panjang lebar pada kakaknya.
            “Aku takut berbicara pada Baba Ling. Kamu tahu sendiri kan bagaimana Baba dari dulu begitu keras mendidik kita semenjak kepergian Mama.”
            “Berbicaralah pada Baba Cik, kumpulkan keberanian Cicik!”
            “Mungkin semuanya sudah terlambat,” kata Meifen lirih.
            Liling terdiam mendengar ucapan Meifen. Dia meraih bahu Meifen, memeluknya sedih.
            “Temui Baba Cik, aku tahu Cicik pasti bisa, Cicik harus berani mencoba berbicara pada Baba, toh Cicik juga belum mencoba berbicara dengan Baba. Jangan berburuk sangka pada Baba.” ucapnya lembut.
            Mendengar ucapan Liling, Meifen menangis tanpa suara. Cintanya memang harus diperjuangkan dengan segenap kekuatan, namun ketakutannya sendiri yang membelenggu Meifen.
***
            Meifen berjalan mondar mandir di kamarnya. Berulang kali dia mematut dirinya di depan cermin. Congsam warna merah yang dikenakannya serasi dengan gincu yang menghiasi bibirnya. Pipinya merona merah seperti buah ceri.
            Putri sulung Baba Chen itu berjalan keluar. Dia menghampiri Baba Chen yang sedang duduk serius di depan mesih hitung. Keningnya berkerut-kerut. Seperti sedang ada sesuatu yang membuat pikirannya gusar. Berulang kali tangannya memegang dahinya yang licin. Meifen paham betul keuntungan toko memang menurun akhir-akhir ini.
            “Kamu tahu Meifen, keuntungan toko kita tak sebagus dulu. Jadi kita harus pintar-pintar mengelola toko ini,” ujar Baba Chen.
            “Meifen tahu Baba,” Meifen menjawab singkat sambil mengangsurkan secangkir teh hijau kegemaran Babanya.
            “Baba, Meifen ingin mengatakan sesuatu. Maafkan Meifen, apa yang akan Meifen katakan ini mungkin membuat Baba marah,” ucap Meifen perlahan.
            Baba Chen melepas kacamatanya. Matanya lekat menatap Meifen.
            “Katakan Meifen!”
            “Meifen mencintai seorang laki-laki, maksud Meifen, kami saling mencintai. Kami ingin menikah,” ucap Meifen lirih, dia tak sanggup bila harus menanggung kemarahan Babanya.
            “Mencintai? Siapa dia?” tanya Baba Chen.
            Meifen menelan ludahnya, tenggorokannya terasa kering. Lidahnya kelu.
            “Meifen mencintai Am...” kata-kata Meifen terputus.
            Terdengar suara gaduh di luar. Dua orang laki-laki melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam toko tekstil Baba Chen. Jantung Meifen berdetak lebih kencang, dia mengenali dua orang laki-laki itu, mereka masih keluarga dekat Amari.
            “Me...Meifen!” ujar laki-laki bertubuh gemuk dengan nafas tersenggal-senggal.
            “Ada apa Pak Lik⁾?” tanya Meifen. Jantungnya kian berdegub cepat, ada firasat buruk yang tiba-tiba mengambang di udara.
            “Amari Nak, dia meninggal dini hari tadi. Tertabrak mobil,” ucap laki-laki yang lebih berumur.
            Tubuh Meifen mendadak lunglai. Dunianya tiba-tiba berubah gelap gulita. Mataharinya telah direnggut begitu saja. Semalam Amari datang untuk bertemu dengannya, namun belum sempat dia menemuinya, kematian telah lebih dulu menjemput kekasihnya.
***
            Liling berdiri sedih di depan pintu kamar Meifen. Pandangannya nelangsa melihat Meifen yang sedang asyik berdandan di depan cermin. Congsam warna merah telah dikenakan kakak semata wayangnya itu. Rambutnya tersanggul rapi.
            “Kemarilah Liling, lihatlah aku! Bagaimana menurutmu? Aku sudah cantik bukan?” tanya Meifen sambil memoleskan gincu warna merah.
            “Cantik Cik, sangat cantik,” ucap Liling sambil mencoba tersenyum.
            “Malam ini aku akan bertemu dengan Amari. Dia senang melihatku memakai congsam. Dia pasti akan mengajakku menikah. Baba juga sangat setuju kalau aku menikah dengan Amari,” cerita Meifen riang.
            Mati-matian Liling mencoba menahan air matanya yang siap runtuh. Sejak kematian Amari, Meifen banyak berubah. Nyaris setiap malam hingga dini hari ia berjalan di sepanjang Pecinan dengan mengenakan congsamnya. Tak ada yang bisa mencegahnya.
            Meifen selalu menunggu kekasihnya hingga lewat dini hari. Berharap Amari datang menemuinya. Amari memang telah mati, namun cinta Meifen padanya tetap abadi.


Catatan: 

¹ Pakaian tradisional yang berasal dari Tiongkok, dikenakan oleh wanita.
² Lima ribu
³Bapak
 Panggilan untuk kakak perempuan
 Paman


Share:

0 comments:

Post a Comment