Thursday, June 1, 2017

,

Bromo; pada Sebuah Janji

            Lautan pasir terbentang sejauh mata memandang. Seorang laki-laki berjalan tertatih. Sesekali desau angin menerbangkan butiran pasir hinggga menerpa tubuhnya. Tas ransel besar yang membebani punggungnya membuat langkah-langkah lesu itu kian goyah.
            Wajah yang pasi itu terlihat luar biasa gelisah. Entah apa yang sedang bergolak hebat di relung batinnya. Dia terus melangkah sambil menunduk dalam-dalam. Matanya sesekali menyipit ketika hembusan angin bertiup ke arahnya.
            Alam sepi. Sesekali terdengar suara bisik sang pasir yang tengah risau menanti datangnya hujan. Di sekeliling hanya terlihat pasir menghampar sejauh mata memandang. Sebentar lagi senja.
            Hening. Di kejauhan lukisan senja perlahan mulai terlukis. Torehan jingga mewarnai langit barat. Dewa Surya tengah bergegas pulang setelah sesiang tadi berjibaku menjalankan tugasnya. Memberikan sinar kehidupan untuk seisi makhluk penghuni bumi.
            Laki-laki itu terduduk letih. Celana cargo kusamnya dia biarkan begitu saja langsung bersentuhan dengan hamparan pasir. Tangannya dengan risau mengusap mukanya. Berusaha sebisa mungkin  menghilangkan debu-debu yang menempel di wajah sawo matang itu.
            “Kartika!” ujarnya lantang.
            Satu helaan nafas panjang diambilnya bersamaan ketika matahari  tenggelam. Janjinya telah tertunaikan begitu dia menginjakkan kaki di lautan pasir itu.
Ketika itu senja telah benar-benar berganti dengan malam. Saat mantera-mantera berbahasa jawa kuno yang dengan sungguh dirapalkan oleh para dukun adat, membumbung tinggi ke udara. Menembus awan, menjumpai para leluhur.  Pengharapan kebaikan untuk semesta.


***
            Tenda warna putih dengan hisan pita merah jampu terpasang di halaman sebuah rumah. Beberapa orang yang mengenakan pakaian bernuansa hitam dan sarung terlihat berjalan hilir mudik keluar masuk rumah. Sibuk menyiapkan segela keperluan upacara.
            Aneka kue khas tradisional dan beberapa kudapan ringan telah tersaji di atas meja yang berlapiskan kain putih emas. Para tamu berbincang ringan sambil menunggu dukun adat memulai upacara. Deretan piring yang berisi aneka kue basah tampak harmonis bersanding dengan rangkaian bunga yang ditempatkan dalam sebuah vas minimalis.
            Seorang laki-laki duduk sendiri di pojok tenda. Penampilannya sedikit berbeda dengan orang-orang yang berada di tempat itu. Kemeja hitam dan celana cargo yang dipakainya membuat penampilannya sedikit mencolok. Wajahnya terlihat lelah, seperti baru saja melakukan perjalanan jauh. sorot matanya pun terlihat sedih. Seperti kesepian di tengah suka cita pesta.
            Upacara Walagra akan segera dimulai. Dukun adat sibuk mengecek kelengkapan sesaji. Tidak boleh ada yang kurang. Semua orang khusyuk mengikuti jalannya upacara adat. Dukun adat menuangkan secawan air yang telah dibawanya ke dalam prasen. Mantera panjang dengan bahasa jawa kuno dirapalkan oleh dukun adat setelah air dalam prasen itu diaduk dengan menggunakan janur.
            Kartika lalu mencelupkan jari telunjukknya ke dalam prasen. Wanita ayu itu lalu mengusapkan tangannya pada tangan dan pintu. Setelah itu dia beranjak menghampiri para tamu, mengusapkan jari telunjuknya pada tangan para tamu guna meminta doa restu. Terlewati sudah puncak upacara pernikahan.
            Kartika menghela nafas lega. Dia menghampiri laki-laki yang telah menjadi suaminya itu. Menggemit mesra lengannya. 
            “Terima kasih,” bisiknya pelan.
            Laki-laki yang berdiri di sampingnya tersenyum kecil. Usahanya sejak delapan tahun yang lalu untuk mendapatkan kembang desa itu akhirnya tidak sia-sia.
***
            “Kartika...” bisik laki-laki itu pelan. Sangat pelan, nyaris tak terdengar. Hingga orang yang duduk paling dekat dengannya pun mungkin tak bisa mendengar suaranya.
            Hatinya luar biasa nyeri. Melihat wanita yang telah membuatnya jatuh cinta sejak pertama kali bertemu itu bersanding dengan laki-laki lain dalam sebuah upacara adat pernikahan yang suci. Wanita yang mampu mencuri hatinya hanya dengan keluhuran budi dan keramahan.
            Tengger, tempat ia menemukan bidadarinya. Di tempat indah itu ia seolah telah menemukan tulang rusuknya yang lama terpisah. Menemukan sumber kebahagiaan. Di antara hamparan awan dan kabut, cinta itu kian ranum. Menjelma seindah matahari terbit di Bromo.
            Doa-doa telah terapalkannya dengan khusyuk nyaris sepanjang hari hanya untuk memohon keabadian cinta itu. Seindah legenda cinta Joko Seger dan Rara Anteng. Tak sabar rasanya ingin mempersunting wanita pujaannya.  Merengkuh bahagia hingga denyut waktu tak lagi berpihak.
            “Terima kasih Mas, sudah datang,” suara lembut wanita membuyarkan lamunan Egas.
            Egas tergagap. Kartika telah berdiri di depannya. Wanita asli Tengger itu tersenyum anggun. Bukan hal mudah bagi Egas untuk berbicara dengan Kartika saat itu. Ada debar nan keras dalam dadanya yang sulit untuk di kendalikan. Lidahnya mendadak kelu.
            “ehm...ehm...iy...iya,” jawab Egas singkat. Tangannya bergegas mengambil botol minuman ringan yang berjajar di depannya sekedar menutupi rasa gugupnya.
            “Silahkan loh dinikmati sajiannya. Jangan pulang dulu sebelum makan ya!” pesan Kartika sambil tangannya menunjuk ke ruang sebelah, tempat orang-orang sedang mengantri untuk mengambil makanan.
            Egas mengangguk singkat. Membiarkan wanita yang pernah dia impikan untuk menjadi istrinya itu berlalu.
***
Sore hampir menjemput. Sinar matahari mulai melembut. Sesekali angin bertiup semilir mengantarkan hawa sejuk dari atas sana. Cuaca cerah. Puncak Semeru terlihat jelas dengan kepulan solfataranya.
Egas berjalan pelan menyusuri jalanan yang menurun. Di kiri kanan jalan ladang penduduk yang berpetak-petak penuh dengan tanaman kol dan wortel menjadi pemandangan menentramkan yang indah dipandang. Tempat itu memang kental dengan  kedamaian dan ketenangan.
Egas tergagap dari lamunannya ketika seorang teman menepuk punggungnya pelan.
“Jangan melamun terus Bang! Nikmatilah lukisan sempurna karya Tuhan ini. Jarang-jarang kan kita temui pemandangan indah seperti ini,” ujar teman Egas riang.
Egas hanya mengangguk sekilas. Dia tak berminat untuk menanggapi ucapan temannya itu. Guratan jingga yang mulai tertoreh di ujung barat lebih menarik indra penglihatannya.  Seisi alam sedang berlomba menunjukkan kemolekannya.
Seorang wanita yang memakai sarung dengan cara mengikatkan salah satu ujung bawah dan ujung atas sarung kemudian dikalungkan ke leher berjalan tergesa-gesa. Tangannya sedikit kerepotan membawa sekeranjang penuh wortel. Manik-manik keringat terlihat di dahinya. Seiring dengan nafas yang mulai memburu menahan beban keranjang.
“Ada  yang  bisa  saya  bantu  Bu?” Egas  mendekat  sambil  tersenyum  pada wanita itu.
Seraut wajah mengangkat kepalanya. Wajah itu terlihat ayu walaupun tanpa balutan make up tebal. Dia terdiam sesaat. Mencoba menimbang-nimbang tawaran dari Egas.
“Nama saya Egas. Saya sedang melakukan penelitian di sini. Kebetulan saya menginap di salah satu rumah penduduk,” cerita Egas.
Wanita itu mengangguk kecil. Mengangsurkan keranjang wortelnya pada Egas.
Mereka berdua berjalan pelan. Teman-teman Egas lainnya sedikit tertinggal di belakang, asyik memotret pemandangan alam yang memang jarang dijumpai di kota besar.
“Nama saya Kartika.” ucap wanita itu lembut.
Egas terdiam. Dia hanya sanggup mengangguk. Sibuk meredakan detak jantung dalam dada yang tiba-tiba menjadi tak biasa.
“Saya belum terlalu tua sebenarnya. Saya baru saja menamatkan pendidikan diploma saya. Jadi kurang pantas kalau saya dipanggil Bu,” cerita Kartika sambil tertawa renyah.
Debar dalam jantung Egas kian menjadi. Keramahan wanita ayu itu semakin membuatnya terpikat.
“Itu rumah saya.” kata Kartika sambil menunjuk rumah asri berpagar bambu.
“Terima kasih banyak loh Mas Egas. Silahkan mampir,” tawar Kartika pada Egas.
“Mungkin lain kali saja Kar...Kartika,” ujar  Egas agak ragu. Dia sedikit bingung saat harus memanggil wanita yang kini tengah berdiri anggun di depannya.
“Kartika saja,” ujar Kartika seketika menghapuskan keraguan Egas.
Egas berjalan meninggalkan rumah Kartika. Ada yang terasa aneh dalam dirinya. Ribuan kupu-kupu seperti sedang ramai beterbangan memenuhi rongga perutnya.
***
Puncak Semeru menjulang gagah dengan asap putihnya. Deretan kebun hijau dengan sistem teras siringnya menjadi pemandangan yang menyejukkan mata. Sesekali terlihat warga dengan sarung yang diikatkan berjalan hilir mudik. Menyapa Egas yang tengah berdiri sendiri di tempat itu.
Egas berdiri dengan gelisah. Berkali-kali ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebentar lagi siang yang akan datang. Orang yang sedari tadi ditunggu-tunggu Egas belum juga muncul.
Sesosok wanita berjalan ke arah Egas dengan langkah langkah cepat. Kain sarungnya yang berwarna pucat ikut bergerak seiring dengan langkah kakinya.
“Maafkan aku Egas, aku terlambat. Tadi Bapak terlebih dahulu menyuruhkan untuk menyiapkan sesaji.” jelasnya dengan rasa bersalah.
Egas tersenyum. Tak lagi terlihat raut kesal membayang di mukanya.
“Iya, tidak apa-apa Kartika,” ucapnya tenang sambil tersenyum.
“Ada yang ingin aku bicarakan padamu Kartika.” ucap Egas serius.
“Ada apa? Bicara saja. Apa ini soal penelitianmu?” tanya Kartika ingin tahu.
Egas terdiam sesaat. Dia menghela nafas dalam-dalam.
“Bersediakah kau menjadi teman hidupku  Kartika? Menjadi teman berbagi kebahagiaan dan sedihku?” pinta Egas sungguh-sungguh.
Kartika terdiam. Dia tak menyangka Egas akan mengatakan itu.
“Jika kau bersedia, aku akan segera melamarmu dan menentukan tanggal baik. Setelah pernikahan kita, aku akan membawamu ke tempat asalku.” ucap Egas.
“Kau tak keberatan bukan jika setelah menikah aku akan mengajakmu tinggal jauh dari orang tuamu?” tanya Egas.
Kartika terdiam. Matanya lurus tertuju ke depan. Wajahnya datar, tanpa ekspresi.
***
Egas  terdiam lama. Jawaban Kartika membuatnya lututnya seketika terasa lemas. Penelitiannya telah berakhir. Dia harus segera pulang, teman-temannya bahkan telah mendahului turun sejak kemarin. Dia bertahan di tempat itu hanya untuk menunggu jawaban Kartika.
“Maafkan aku Egas. Namun aku tak bisa meninggalkan Tengger. Ada banyak hal yang ingin aku lakukan untuk tempat ini. Tempat ini membutuhkanku. Ada begitu banyak kekayaan budaya dan alamnya yang tak boleh hilang. Aku telah berjanji untuk melakukan itu. Kalau bukan putra asli Tengger, siapa lagi yang akan menjaganya,” ucap Kartika.
“Kebetulan aku juga tengah merintis wisata edukasi di tempat ini. Aku ingin berbuat banyak untuk Tengger. Seperti yang telah dilakukan Raden Kusuma, beliau bahkan merelakan dirinya terseret Kawah Bromo untuk memenuhi janji, demi kelestarian dan kesuburan Tengger.” ujar Kartika dengan mata berkaca-kaca.
“Tak lama lagi aku akan segera menikah. Dia laki-laki asli Tengger yang selama ini selalu mendukungku.” cerita Kartika lirih.
“Datanglah ke pesta pernikahanku Egas. Aku akan sangat senang bila kau berkenan hadir.” pinta Kartika sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
Egas terdiam, dadanya bergemuruh. Ucapan Kartika menjelma bak petir yang menyembar di siang bolong. Dunianya seketika runtuh.
“Aku akan datang Kartika.” ucap Egas sambil berbalik meninggalkan Kartika. Wajahnya pasi. Dia berjalan menuju ke arah puncak. Langkahnya pelan. Sesekali tas ransel hijaunya bergoyang mengikuti langkah kaki Egas. Dia harus memenuhi janjinya. Apapun jawaban Kartika, lautan pasir Bromo akan menjadi tempat pertama yang dia sambangi. Bromo adalah janji yang harus ditepati.


                     






Share:

0 comments:

Post a Comment