Lautan
pasir terbentang sejauh mata memandang. Seorang laki-laki berjalan tertatih.
Sesekali desau angin menerbangkan butiran pasir hinggga menerpa tubuhnya. Tas
ransel besar yang membebani punggungnya membuat langkah-langkah lesu itu kian
goyah.
Wajah
yang pasi itu terlihat luar biasa gelisah. Entah apa yang sedang bergolak hebat
di relung batinnya. Dia terus melangkah sambil menunduk dalam-dalam. Matanya
sesekali menyipit ketika hembusan angin bertiup ke arahnya.
Alam
sepi. Sesekali terdengar suara bisik sang pasir yang tengah risau menanti
datangnya hujan. Di sekeliling hanya terlihat pasir menghampar sejauh mata
memandang. Sebentar lagi senja.
Hening.
Di kejauhan lukisan senja perlahan mulai terlukis. Torehan jingga mewarnai
langit barat. Dewa Surya tengah bergegas pulang setelah sesiang tadi berjibaku
menjalankan tugasnya. Memberikan sinar kehidupan untuk seisi makhluk penghuni
bumi.
Laki-laki
itu terduduk letih. Celana cargo
kusamnya dia biarkan begitu saja langsung bersentuhan dengan hamparan pasir.
Tangannya dengan risau mengusap mukanya. Berusaha sebisa mungkin menghilangkan debu-debu yang menempel di wajah
sawo matang itu.
“Kartika!”
ujarnya lantang.
Satu
helaan nafas panjang diambilnya bersamaan ketika matahari tenggelam. Janjinya telah tertunaikan begitu dia
menginjakkan kaki di lautan pasir itu.
Ketika itu senja telah
benar-benar berganti dengan malam. Saat mantera-mantera berbahasa jawa kuno
yang dengan sungguh dirapalkan oleh para dukun adat, membumbung tinggi ke
udara. Menembus awan, menjumpai para leluhur.
Pengharapan kebaikan untuk semesta.
***
Tenda
warna putih dengan hisan pita merah jampu terpasang di halaman sebuah rumah.
Beberapa orang yang mengenakan pakaian bernuansa hitam dan sarung terlihat
berjalan hilir mudik keluar masuk rumah. Sibuk menyiapkan segela keperluan
upacara.
Aneka
kue khas tradisional dan beberapa kudapan ringan telah tersaji di atas meja
yang berlapiskan kain putih emas. Para tamu berbincang ringan sambil menunggu
dukun adat memulai upacara. Deretan piring yang berisi aneka kue basah tampak
harmonis bersanding dengan rangkaian bunga yang ditempatkan dalam sebuah vas
minimalis.
Seorang
laki-laki duduk sendiri di pojok tenda. Penampilannya sedikit berbeda dengan
orang-orang yang berada di tempat itu. Kemeja hitam dan celana cargo yang dipakainya membuat
penampilannya sedikit mencolok. Wajahnya terlihat lelah, seperti baru saja
melakukan perjalanan jauh. sorot matanya pun terlihat sedih. Seperti kesepian
di tengah suka cita pesta.
Upacara
Walagra akan segera dimulai. Dukun adat sibuk mengecek kelengkapan sesaji.
Tidak boleh ada yang kurang. Semua orang khusyuk mengikuti jalannya upacara
adat. Dukun adat menuangkan secawan air yang telah dibawanya ke dalam prasen. Mantera
panjang dengan bahasa jawa kuno dirapalkan oleh dukun adat setelah air dalam
prasen itu diaduk dengan menggunakan janur.
Kartika
lalu mencelupkan jari telunjukknya ke dalam prasen. Wanita ayu itu lalu
mengusapkan tangannya pada tangan dan pintu. Setelah itu dia beranjak
menghampiri para tamu, mengusapkan jari telunjuknya pada tangan para tamu guna
meminta doa restu. Terlewati sudah puncak upacara pernikahan.
Kartika
menghela nafas lega. Dia menghampiri laki-laki yang telah menjadi suaminya itu.
Menggemit mesra lengannya.
“Terima
kasih,” bisiknya pelan.
Laki-laki
yang berdiri di sampingnya tersenyum kecil. Usahanya sejak delapan tahun yang
lalu untuk mendapatkan kembang desa itu akhirnya tidak sia-sia.
***
“Kartika...”
bisik laki-laki itu pelan. Sangat pelan, nyaris tak terdengar. Hingga orang
yang duduk paling dekat dengannya pun mungkin tak bisa mendengar suaranya.
Hatinya
luar biasa nyeri. Melihat wanita yang telah membuatnya jatuh cinta sejak
pertama kali bertemu itu bersanding dengan laki-laki lain dalam sebuah upacara
adat pernikahan yang suci. Wanita yang mampu mencuri hatinya hanya dengan
keluhuran budi dan keramahan.
Tengger,
tempat ia menemukan bidadarinya. Di tempat indah itu ia seolah telah menemukan
tulang rusuknya yang lama terpisah. Menemukan sumber kebahagiaan. Di antara
hamparan awan dan kabut, cinta itu kian ranum. Menjelma seindah matahari terbit
di Bromo.
Doa-doa
telah terapalkannya dengan khusyuk nyaris sepanjang hari hanya untuk memohon
keabadian cinta itu. Seindah legenda cinta Joko Seger dan Rara Anteng. Tak
sabar rasanya ingin mempersunting wanita pujaannya. Merengkuh bahagia hingga denyut waktu tak lagi
berpihak.
“Terima
kasih Mas, sudah datang,” suara lembut wanita membuyarkan lamunan Egas.
Egas
tergagap. Kartika telah berdiri di depannya. Wanita asli Tengger itu tersenyum
anggun. Bukan hal mudah bagi Egas untuk berbicara dengan Kartika saat itu. Ada
debar nan keras dalam dadanya yang sulit untuk di kendalikan. Lidahnya mendadak
kelu.
“ehm...ehm...iy...iya,”
jawab Egas singkat. Tangannya bergegas mengambil botol minuman ringan yang
berjajar di depannya sekedar menutupi rasa gugupnya.
“Silahkan
loh dinikmati sajiannya. Jangan pulang dulu sebelum makan ya!” pesan Kartika
sambil tangannya menunjuk ke ruang sebelah, tempat orang-orang sedang mengantri
untuk mengambil makanan.
Egas
mengangguk singkat. Membiarkan wanita yang pernah dia impikan untuk menjadi istrinya
itu berlalu.
***
Sore hampir menjemput. Sinar
matahari mulai melembut. Sesekali angin bertiup semilir mengantarkan hawa sejuk
dari atas sana. Cuaca cerah. Puncak Semeru terlihat jelas dengan kepulan
solfataranya.
Egas berjalan pelan
menyusuri jalanan yang menurun. Di kiri kanan jalan ladang penduduk yang
berpetak-petak penuh dengan tanaman kol dan wortel menjadi pemandangan menentramkan
yang indah dipandang. Tempat itu memang kental dengan kedamaian dan ketenangan.
Egas tergagap dari
lamunannya ketika seorang teman menepuk punggungnya pelan.
“Jangan melamun terus Bang!
Nikmatilah lukisan sempurna karya Tuhan ini. Jarang-jarang kan kita temui
pemandangan indah seperti ini,” ujar teman Egas riang.
Egas hanya mengangguk
sekilas. Dia tak berminat untuk menanggapi ucapan temannya itu. Guratan jingga
yang mulai tertoreh di ujung barat lebih menarik indra penglihatannya. Seisi alam sedang berlomba menunjukkan
kemolekannya.
Seorang wanita yang memakai
sarung dengan cara mengikatkan salah satu ujung bawah dan ujung atas sarung
kemudian dikalungkan ke leher berjalan tergesa-gesa. Tangannya sedikit
kerepotan membawa sekeranjang penuh wortel. Manik-manik keringat terlihat di
dahinya. Seiring dengan nafas yang mulai memburu menahan beban keranjang.
“Ada yang bisa saya
bantu Bu?” Egas mendekat sambil tersenyum
pada wanita itu.
Seraut wajah
mengangkat kepalanya. Wajah itu terlihat ayu walaupun tanpa balutan make up
tebal. Dia terdiam sesaat. Mencoba menimbang-nimbang tawaran dari Egas.
“Nama saya Egas. Saya sedang melakukan penelitian di
sini. Kebetulan saya menginap di salah satu rumah penduduk,” cerita Egas.
Wanita itu mengangguk kecil. Mengangsurkan keranjang
wortelnya pada Egas.
Mereka berdua berjalan pelan. Teman-teman Egas lainnya
sedikit tertinggal di belakang, asyik memotret pemandangan alam yang memang
jarang dijumpai di kota besar.
“Nama saya Kartika.” ucap wanita itu lembut.
Egas terdiam. Dia hanya sanggup mengangguk. Sibuk
meredakan detak jantung dalam dada yang tiba-tiba menjadi tak biasa.
“Saya belum terlalu tua sebenarnya. Saya baru saja
menamatkan pendidikan diploma saya. Jadi kurang pantas kalau saya dipanggil
Bu,” cerita Kartika sambil tertawa renyah.
Debar dalam jantung Egas kian menjadi. Keramahan
wanita ayu itu semakin membuatnya terpikat.
“Itu rumah saya.” kata Kartika sambil menunjuk rumah
asri berpagar bambu.
“Terima kasih banyak loh Mas Egas. Silahkan mampir,”
tawar Kartika pada Egas.
“Mungkin lain kali saja Kar...Kartika,” ujar Egas agak ragu. Dia sedikit bingung saat
harus memanggil wanita yang kini tengah berdiri anggun di depannya.
“Kartika saja,” ujar Kartika seketika menghapuskan
keraguan Egas.
Egas berjalan meninggalkan rumah Kartika. Ada yang
terasa aneh dalam dirinya. Ribuan kupu-kupu seperti sedang ramai beterbangan
memenuhi rongga perutnya.
***
Puncak Semeru menjulang gagah dengan asap putihnya.
Deretan kebun hijau dengan sistem teras siringnya menjadi pemandangan yang
menyejukkan mata. Sesekali terlihat warga dengan sarung yang diikatkan berjalan
hilir mudik. Menyapa Egas yang tengah berdiri sendiri di tempat itu.
Egas berdiri dengan gelisah. Berkali-kali ia melihat
jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebentar lagi siang yang akan
datang. Orang yang sedari tadi ditunggu-tunggu Egas belum juga muncul.
Sesosok wanita berjalan ke arah Egas dengan langkah
langkah cepat. Kain sarungnya yang berwarna pucat ikut bergerak seiring dengan
langkah kakinya.
“Maafkan aku Egas, aku terlambat. Tadi Bapak terlebih
dahulu menyuruhkan untuk menyiapkan sesaji.” jelasnya dengan rasa bersalah.
Egas tersenyum. Tak lagi terlihat raut kesal membayang
di mukanya.
“Iya, tidak apa-apa Kartika,” ucapnya tenang sambil
tersenyum.
“Ada yang ingin aku bicarakan padamu Kartika.” ucap
Egas serius.
“Ada apa? Bicara saja. Apa ini soal penelitianmu?”
tanya Kartika ingin tahu.
Egas terdiam sesaat. Dia menghela nafas dalam-dalam.
“Bersediakah kau menjadi teman hidupku Kartika? Menjadi teman berbagi kebahagiaan
dan sedihku?” pinta Egas sungguh-sungguh.
Kartika terdiam. Dia tak menyangka Egas akan
mengatakan itu.
“Jika kau bersedia, aku akan segera melamarmu dan
menentukan tanggal baik. Setelah pernikahan kita, aku akan membawamu ke tempat
asalku.” ucap Egas.
“Kau tak keberatan bukan jika setelah menikah aku akan
mengajakmu tinggal jauh dari orang tuamu?” tanya Egas.
Kartika terdiam. Matanya lurus tertuju ke depan.
Wajahnya datar, tanpa ekspresi.
***
Egas terdiam
lama. Jawaban Kartika membuatnya lututnya seketika terasa lemas. Penelitiannya
telah berakhir. Dia harus segera pulang, teman-temannya bahkan telah mendahului
turun sejak kemarin. Dia bertahan di tempat itu hanya untuk menunggu jawaban
Kartika.
“Maafkan aku Egas. Namun aku tak bisa meninggalkan
Tengger. Ada banyak hal yang ingin aku lakukan untuk tempat ini. Tempat ini
membutuhkanku. Ada begitu banyak kekayaan budaya dan alamnya yang tak boleh
hilang. Aku telah berjanji untuk melakukan itu. Kalau bukan putra asli Tengger,
siapa lagi yang akan menjaganya,” ucap Kartika.
“Kebetulan aku juga tengah merintis wisata edukasi di
tempat ini. Aku ingin berbuat banyak untuk Tengger. Seperti yang telah
dilakukan Raden Kusuma, beliau bahkan merelakan dirinya terseret Kawah Bromo
untuk memenuhi janji, demi kelestarian dan kesuburan Tengger.” ujar Kartika
dengan mata berkaca-kaca.
“Tak lama lagi aku akan segera menikah. Dia laki-laki
asli Tengger yang selama ini selalu mendukungku.” cerita Kartika lirih.
“Datanglah ke pesta pernikahanku Egas. Aku akan sangat
senang bila kau berkenan hadir.” pinta Kartika sambil menangkupkan kedua
tangannya di dada.
Egas terdiam, dadanya bergemuruh. Ucapan Kartika
menjelma bak petir yang menyembar di siang bolong. Dunianya seketika runtuh.
“Aku akan datang Kartika.” ucap Egas sambil berbalik
meninggalkan Kartika. Wajahnya pasi. Dia berjalan menuju ke arah puncak. Langkahnya
pelan. Sesekali tas ransel hijaunya bergoyang mengikuti langkah kaki Egas. Dia
harus memenuhi janjinya. Apapun jawaban Kartika, lautan pasir Bromo akan
menjadi tempat pertama yang dia sambangi. Bromo adalah janji yang harus
ditepati.

0 comments:
Post a Comment